Saat aku masih kecil, sekitar usia 4 tahun, kami tinggal di rumah oppung
di Pematangsiantar, tepatnya di BDB, depan pabrik STTC (Sumatra Tobacco
Trading Company). Terkadang di pagi hari aku dibawa oppung doli jalan
pagi keliling kompleks tempat tinggal. Biasanya kalau sudah nyampe di
halte yang dibuat oleh pabrik STTC, kami beristirahat. Oppung biasanya
melihat-lihat ke dalam pabrik, karena memang tembok pembatas pabrik
tersebut tidak cukup tinggi untuk ukuran orang dewasa. Dan terkadang
oppung menawarkan pundak nya untuk ku agar aku juga bisa ikut melongok
ke dalam. Pabrik itu cukup besar, ya, yang bisa terlihat hanyalah
gudang-gudang dan beberapa pekerja yang mungkin bekerja di shift malam.
Kedua orang tuaku adalah pengabdi pendidikan, yang berusaha mencerdaskan
anak-anak bangsa ini, sehingga di pagi hari tidak ada yang akan menjaga
kami, aku dan adik ku. Ya aku dan adikku dibawa ke pajak (pasar) oleh
oppungku. Pagi-pagi sekitar jam 7 kami sudah harus buka kios. Memajang
barang-barang dagangan yang kebanyakannya adalah tikar, sapu, dan kompor
masak. Sebagai seorang anak kecil saat itu tak banyak yang bisa ku
lakukan untuk membantu, kecuali malah menyusahkan saja.